Kebun Binatang Surabaya (KBS) bukan sekadar lembaga konservasi, melainkan warisan sejarah (living heritage) negara Indonesia yang tepatnya sangat melekat pada identitas kota Surabaya sebagai Kota Pahlawan. Namun, di tengah gempuran destinasi wisata modern di Indonesia, KBS menghadapi tantangan untuk tetap relevan bagi generasi digital. Bagaimana Kebun Binatang Surabaya (KBS) membangun keterikatan (engagement) yang kuat dalam kontribusi agar tidak hanya diingat sebagai tempat wisata masa kecil, tetapi sebagai destinasi aktif yang terus dikunjungi.
Dalam konteks kontribusi dalam meningkatkan engagement industri wisata di Indonesia, strategi komunikasi yang diterapkan oleh Kebun Binatang Surabaya (KBS) mencakup pemanfaatan media sosial sebagai arus utama dalam menyampaikan informasi edukatif sekaligus promosi sebagai branding image, di mana konten yang diproduksi tidak hanya menampilkan koleksi satwa, tetapi juga narasi konservasi, interaksi pengunjung, serta kegiatan tematik yang mampu membangun kedekatan emosional antara audiens dan institusi, sehingga terbentuk hubungan yang bersifat partisipatif dan berkelanjutan.
Setiap zona penangkaran di Kebun Binatang Surabaya memiliki keunikan tersendiri, baik dari segi jenis satwa, konsep habitat, maupun narasi edukasi yang disampaikan. Misalnya, zona satwa langka menekankan pada pesan konservasi atau pesan dalam gambar seperti “hewan ini di lindungi” yang di kemas dengan kesan yang edukatif dan positif, sementara zona interaksi satwa yang bisa memberikan pengalaman langsung kepada pengunjung wisatawan seperti beberapa jenis satwa seperti pembelian tiket non paket yakni “feeding satwa” memberikan Keunikan tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung yang memberikan interaksi secara langsung dengan berbagai macam satwa yang di dampingi oleh keeper khusus dalam pembelian tiket ini. Dengan hal ini tentu menjadi konten strategis bagi wisatawan, dalam meningkatkan komunikasi pemasaran terutama melalui media digital seperti media sosial, website resmi, dan kampanye interaktif yang mampu menarik perhatian generasi muda yang di nilai sebagai indikator kontribusi kebun binatang surabaya dengan berhasil membangun citra dari wisatawan di indonesia.
Dalam strategi komunikasi pariwisata tersebut diperkuat dengan pendekatan uji coba pemasaran (experiential marketing) yang memungkinkan pengunjung untuk tidak sekadar menjadi penonton pasif, melainkan terlibat secara langsung dalam aktivitas wisata edukatif, seperti program tur edukasi, dan kampanye pelestarian lingkungan, yang secara tidak langsung menciptakan pengalaman bermakna dan mendorong terbentuknya konten pengguna (user generated content) di media sosial, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap peningkatan visibilitas dan daya tarik destinasi tersebut dan memberikan kontribusi untuk negara Indonesia.
Menurut pengamatan langsung yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya bernama Raditya Ramadhan Pramudya selaku pengamat di lokasi Kebun Binatang Surabaya, dinamika interaksi antara pengelola dan pengunjung menunjukkan adanya upaya yang konsisten dalam membangun komunikasi dua arah (two step), di mana pengunjung wisatawan tidak hanya menerima informasi, tetapi juga diberikan ruang untuk memberikan respons, berbagi pengalaman, dan turut serta dalam menyebarluaskan citra positif kebun binatang surabaya, melalui berbagai platform digital yang di konsumsi publik, hasil (engagement) yang tercipta tidak bersifat satu arah saja melainkan pengunjung wisatawan dapat berperan aktif dalam pemasaran berdasarkan experience dan kolaboratif dari ajakan wisatawan terhadap lingkungan pengunjung.
Di sisi lain, peran pengampu kepentingan (stakeholder), termasuk pemerintah daerah kota Surabya dan komunitas lokal di kota Surabaya menjadi faktor penting dalam mendukung efektivitas strategi komunikasi tersebut, karena kolaborasi yang sinergis dapat memungkinkan terciptanya program variatif dengan inovasi yang tidak hanya menarik minat wisatawan domestik, tetapi juga berpotensi menjangkau wisatawan mancanegara, dengan penerapan ketika pesan yang disampaikan lalu dikemas secara kreatif, relevan, dan sesuai dengan tren komunikasi digital masa kini.
Sebagaimana disampaikan oleh dosen Komunikasi Pariwisata, Drs. Widiyatmo Ekoputro, MA, bahwa keberhasilan komunikasi pariwisata tidak hanya ditentukan oleh seberapa luas informasi disebarkan, tetapi juga oleh faktor Sapta Pesonanya yang mencakup yaitu aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan, yang dimana secara pengalaman berwisata membentuk persepsi positif bagi wisatawan terhadap Kebun Binatang Surabaya. Kemampuan pengelola destinasi juga berpengaruh dalam membangun makna, pengalaman, dan keterlibatan emosional yang mampu meninggalkan kesan mendalam bagi pengunjung, sehingga mereka terdorong untuk kembali berkunjung serta merekomendasikan destinasi tersebut kepada orang lain.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa strategi komunikasi pariwisata yang diterapkan oleh Kebun Binatang Surabaya, cukup berhasil mengoptimalkan dan mengintegrasi media digital melalui pengalaman langsung wisatawan serta menghasilkan kolaborasi konten pengguna (user generated content) di media sosial merupakan faktor kunci dalam meningkatkan engagement sebagai ikon wisata Kota Pahlawan yang berkontribusi wisata negara Indonesia yang kaya akan sumber hayati dan hewani, sehingga keberlanjutan eksistensinya sebagai destinasi wisata edukatif dan rekreatif dapat terus terjaga di tengah persaingan industri pariwisata yang semakin kompetitif di Indon
esia.












