Personal Branding telah menjadi mata uang baru bagi individu untuk bertahan dan berkembang di era digital yang penuh dengan kebisingan informasi. Seperti mata uang digital yang nilainya ditentukan oleh utilitas dan kepercayaan di pasar global, public speaking berfungsi sebagai aset tak terlihat yang membuka jalan ke karier, kerja sama, dan pengaruh sosial. Sebagai native digital yang mendominasi platform seperti Instagram dan TikTok, Gen-Z harus mampu menonjol di antara lautan konten yang membanjiri feed pengguna setiap hari, di mana algoritma memprioritaskan konten yang paling autentik dan relevan.
Public speaking sebagai penguat Personal Branding ; Mengapa public speaking sangat penting? Perbedaan adalah jawabannya. Kemampuan untuk mengkomunikasikan ide dengan cara yang sistematis dan percaya diri akan membuat Anda berbeda di antara banyak orang dengan pendidikan yang sama. Public speaking juga meningkatkan kredibilitas dan otoritas. Jika Anda dapat menyelesaikan suatu masalah, orang-orang, termasuk perekrut, akan percaya Anda sebagai ahli di bidang tersebut. Ini sejalan dengan laporan Future of Jobs Report dari World Economic Forum yang menempatkan kemampuan komunikasi dan pengaruh sosial sebagai keterampilan paling dicari perusahaan hingga tahun 2025. Bagi Generasi Z, kemampuan berbicara di depan umum telah berubah menjadi standar keterampilan untuk memenuhi gap antara kebutuhan industri dan gelar akademik. Ini akan secara otomatis meningkatkan networking karena orang cenderung tertarik pada orang yang mampu berkomunikasi dengan jelas dan penuh semangat.
Jika dulu public speaking identik dengan berbicara di podium kayu, sekarang Gen Z lebih memilih menggunakan ruang digital untuk menyuarakan pendapatnya. Saat ini, media sosial profesional telah berkembang menjadi arena utama. Instagram Reels, TikTok, dan YouTube adalah panggung publik kecil yang menampilkan identitas diri dalam setiap detik video. Selain itu, Gen Z dapat memperluas jangkauan pengaruh mereka melalui forum dan komunitas online, seperti webinar, diskusi di Twitter dan X Spaces, dan moderator grup diskusi profesional. Suara setiap individu adalah bukti nyata dari kapasitas intelektual Anda di platform ini.
Tetap saja, membangun personal branding memerlukan pendekatan yang strategis untuk memenuhi tujuan individu dalam menciptakan pandangan dari individu lain. Langkah pertama adalah menentukan segmentasi pasar agar dapat diterima khalayak. Anda tidak perlu memiliki kemampuan untuk berbicara tentang semua hal. Fokuslah untuk belajar berbicara secara mendalam tentang satu atau dua subjek yang ingin Anda jadikan identitas Anda.
Langkah kedua adalah memastikan bahwa nada dan gaya yang akan anda gunakan tetap konsisten. Anda harus memutuskan apakah ingin dikenal sebagai individu dengan gaya bicara yang kasual namun berwawasan atau formal. Dengan konsistensi ini, audiens Anda lebih mudah memahami dan mengenal melalui “branding” Anda hanya dari cara Anda menyapa mereka. Gen Z juga harus mempelajari “Retorika Digital”, yang mencakup pengaturan bahasa, intonasi, dan hook (kalimat pembuka yang memikat) dalam tiga detik pertama video. Dalam ruang digital, public speaking adalah tentang bagaimana vokal dan visual bekerja sama untuk menghasilkan persona yang asli dan profesional. Otak manusia dibuat untuk mengingat cerita, bukan data. Pesan Anda akan jauh lebih menarik dan membekas di benak audiens jika Anda memasukkan pengalaman pribadi atau analogi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, sehingga audiens merasa lebih dekat dengan anda.
Jadi, membangun personal branding tanpa belajar public speaking ibarat membangun rumah tanpa fondasi; meskipun tampak bagus dari luar, itu mudah goyah saat diuji. Salah satu investasi leher ke atas yang paling menguntungkan untuk masa depan Gen Z adalah menghabiskan waktu dengan berlatih bicara sendiri secara percaya diri, mengatur agar tidak gugup, dan membangun citra diri positif. Jangan pernah menunggu untuk menjadi “sempurna” sebelum memberi tahu orang lain apa yang Anda ingin katakan.
Orang mungkin takut berbicara salah atau menilai orang lain, tetapi jangan biarkan ketakutan itu menghalangi Anda untuk menjadi orang yang hebat. Ingatlah bahwa setiap suara memiliki panggungnya sendiri, dan panggung Anda sedang menunggu untuk diisi. Berani berbicara, karena hanya orang yang dapat berbicara dengan jelaslah yang benar-benar didengar di dunia yang bising ini. Kapan waktu yang tepat untuk memulai? Saat Anda merasa tidak siap, itulah saat Anda menemukan jawabannya. Banyak generasi Z mengalami imposter syndrome, yang berarti mereka merasa suara mereka tidak cukup penting untuk didengar. Cara terbaik untuk melatih keterampilan mental komunikasi sebelum memasuki panggung profesional yang lebih besar adalah dengan berbicara secara konsisten dalam skala kecil, seperti dalam presentasi di kelas atau dalam video pendek.
Satu pesan dari penulis adalah “Jika personal branding adalah mata uangnya, maka public speaking adalah kurs yang menentukan nilainya. Semakin mahir Anda berkomunikasi, semakin tinggi nilai tawar Anda di pasar talenta global. Jangan biarkan ‘aset’ berharga ini mengendap tanpa pernah digunakan.”
Penulis : Robert Alvin Endyan Syah – 1152300059
Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNTAG 1945 Surabaya
Artikel ini dibuat untuk pemenuhan tugas evaluasi akhir semester, mata kuliah PUBLIC SPEAKING dengan dosen pengampu Bpk. Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A.






