PT Sagara Global Commodity Indragiri Lepas Ekspor 112 Ton Pinang ke India di HUT RI ke-81

JAKARTA, 17 Agustus 2026 — Bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, PT Sagara Global Commodity Indragiri melepas ekspor sebanyak 112 ton pinang asal Tembilahan, Indragiri Hilir, Riau, ke India.

Ekspor tersebut terdiri dari empat kontainer yang diberangkatkan melalui Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, dengan tujuan Pelabuhan Nhava Sheva, India. Pengiriman ini merupakan ekspor pinang ke-3 yang dilakukan PT Sagara Global Commodity Indragiri.

Perusahaan asal Tembilahan, Riau, tersebut bergerak di bidang perdagangan komoditas, meliputi pinang, kopra, dan arang batok kelapa. PT Sagara Global Commodity Indragiri dinahkodai oleh Anton.ds.chan bersama tim yaitu Sarah Gangga Siregar, dan Andry Patria Pradhana.

Pelepasan ekspor yang bertepatan dengan momentum kemerdekaan menjadi simbol kontribusi pelaku usaha daerah dalam mendorong aktivitas perdagangan dan membuka akses produk Indonesia ke pasar internasional.

“Bagi kami, ekspor ini bukan hanya mengenai pengiriman komoditas, tetapi juga bagaimana produk dari daerah bisa memiliki akses ke pasar internasional. Momentum 17 Agustus menjadi pengingat bahwa kemerdekaan juga harus diisi dengan keberanian untuk membangun usaha dan menciptakan peluang ekonomi,” ujar Anton.ds.chan, Direktur PT Sagara Global Commodity Indragiri.

India Menjadi Salah Satu Pasar Strategis

India merupakan salah satu mitra dagang penting Indonesia, termasuk untuk perdagangan nonmigas. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor nonmigas Indonesia ke India pada Januari–November 2025 mencapai US$16,44 miliar, atau sekitar 6,72 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia.

Pada Januari 2026, ekspor nonmigas Indonesia ke India kembali tercatat sebesar US$1,52 miliar. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya peluang pasar India bagi produk dan komoditas Indonesia.

Bagi pelaku usaha komoditas dari daerah, pasar internasional menjadi salah satu peluang untuk meningkatkan skala usaha sekaligus memperluas rantai perdagangan produk lokal.

Pinang menjadi salah satu komoditas yang memiliki pasar ekspor dan selama ini diperdagangkan Indonesia ke sejumlah negara, termasuk India. Potensi tersebut membuka peluang bagi daerah penghasil untuk terhubung langsung maupun tidak langsung dengan rantai pasok global.

Tantangan Eksportir Komoditas

Di sisi lain, pelaku usaha ekspor komoditas menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait fluktuasi harga komoditas, biaya logistik, nilai tukar, kualitas produk, serta kontinuitas pasokan.

Bagi perusahaan skala kecil dan menengah, perubahan biaya logistik dan harga komoditas dapat memberikan dampak signifikan terhadap biaya serta margin perdagangan. Karena itu, perluasan akses pasar dan penguatan jaringan perdagangan menjadi penting agar eksportir daerah dapat menjaga keberlanjutan bisnis.

PT Sagara Global Commodity Indragiri melihat peluang pengembangan komoditas daerah tidak hanya melalui peningkatan volume ekspor, tetapi juga melalui pengembangan produk dan nilai tambah.

“Ke depan, kami ingin terus memperluas pasar dan mengembangkan perdagangan komoditas dari daerah. Harapannya, semakin banyak produk dari Indonesia, khususnya dari daerah penghasil, yang bisa masuk ke pasar global dengan nilai ekonomi yang semakin baik,” lanjut Sarah Gangga Siregar.

Mendorong Kemerdekaan Ekonomi dari Daerah

Ekspor 112 ton pinang pada momentum HUT ke-81 RI juga menjadi gambaran mengenai peran sektor swasta dan pelaku usaha daerah dalam aktivitas ekonomi nasional.

Kegiatan perdagangan internasional tidak hanya menghasilkan transaksi ekspor, tetapi turut melibatkan berbagai mata rantai ekonomi, mulai dari petani dan pemasok, pekerja, pengumpul, pengolahan, transportasi, hingga jasa logistik dan kepelabuhanan.

Dengan semakin banyaknya pelaku usaha daerah yang masuk ke pasar ekspor, potensi komoditas lokal untuk menghasilkan nilai ekonomi dan devisa bagi Indonesia juga semakin terbuka.

Bagi PT Sagara Global Commodity Indragiri, pelepasan ekspor ke-3 ini menjadi bagian dari upaya membangun perdagangan komoditas berbasis daerah sekaligus memperkenalkan produk Indonesia kepada pasar internasional.

Momentum 17 Agustus 2026 pun menjadi pengingat bahwa semangat kemerdekaan dapat diwujudkan melalui karya dan aktivitas ekonomi nyata—dengan membangun usaha, membuka pasar, menciptakan kesempatan kerja, serta membawa produk Indonesia dari daerah menuju pasar dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *