Bahlil Beri Izin Pengeboran 2.000 Meter di Gunung Ungaran: Antara Energi dan Harga yang Harus Dibayar

Gunung Ungaran — Kabar mengejutkan datang baru-baru ini: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia secara resmi memberikan izin pengeboran panas bumi di Gunung Ungaran, dengan kedalaman mencapai 2.000 meter. Proyek ini diklaim sebagai langkah strategis untuk memenuhi kebutuhan energi bersih negara. Namun di balik keputusan itu, tersimpan pertanyaan besar: apakah kita sudah menghitung semua risikonya?

Proyek Panas Bumi: Janji dan Harapan

Energi panas bumi memang sering disebut sebagai energi masa depan — bersih, terbarukan, dan berpotensi besar. Dengan pengeboran sedalam 2.000 meter di perbukitan Ungaran, diharapkan bisa menghasilkan listrik yang cukup untuk menyuplai kebutuhan ribu rumah tangga. Tujuannya mulia: mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, mendorong transisi energi, dan memacu pertumbuhan ekonomi.

Namun, Gunung Ungaran bukan sekadar tumpukan batu dan tanah. Ia adalah sistem kehidupan yang telah berjalan ribuan tahun, menopang jutaan manusia di sekitarnya.

Apa yang Dipertaruhkan Saat Mengebor Sedalam 2.000 Meter?

Pengeboran sedalam 2.000 meter bukanlah hal sepele. Ia menembus lapisan bumi yang berfungsi sebagai jantung sistem air tanah. Berikut hal-hal yang terancam:

Sumber Air Warga Bisa Mengering

Gunung Ungaran adalah daerah resapan air utama bagi masyarakat di Kabupaten Semarang, Kendal, dan sekitarnya. Pengeboran dalam dapat mengganggu aliran air bawah tanah, merusak akuifer, dan mengeringkan mata air yang sudah digunakan turun-temurun oleh warga.

Lahan Pertanian Terancam Gagal Panen

Air yang mengalir dari lereng Ungaran menjadi nyawa bagi lahan pertanian di bawahnya. Jika aliran air terganggu, petani bisa kehilangan sumber irigasi. Dampaknya bukan hanya gagal panen, tapi hilangnya mata pencaharian bagi ribuan keluarga.

Warisan Budaya Candi Gedong Songo

Hanya beberapa kilometer dari lokasi rencana pengeboran berdiri Candi Gedong Songo, situs warisan budaya yang berusia lebih dari 1.000 tahun. Getaran pengeboran, penurunan permukaan tanah, dan perubahan tekanan air bawah tanah dapat merusak bangunan kuno ini secara permanen — dan yang rusak tidak bisa dikembalikan.

Kerusakan Hutan & Risiko Bencana Alam

Pembukaan lahan dan pengeboran di kawasan hutan dapat memicu erosi, tanah longsor, hingga risiko gempa terinduksi akibat injeksi air ke bawah tanah. Warga yang tinggal di kaki gunung adalah pihak yang paling menanggung risiko tersebut.

Kemajuan Tak Boleh Mengorbankan Masa Depan

Kita semua butuh energi. Transisi energi adalah keharusan. Tapi tidak boleh dengan cara merampas sumber kehidupan masyarakat. Sebelum izin diberikan, apakah studi kelayakan lingkungan sudah dilakukan secara menyeluruh dan terbuka? Apakah suara warga yang terdampak sudah didengar? Apakah sudah dicari alternatif lokasi yang tidak merusak daerah tangkapan air dan warisan budaya?

“Kita tidak bisa makan listrik. Jika air sudah kering dan tanah sudah rusak, seberapa pun besarnya listrik yang dihasilkan, tidak akan berguna untuk hidup.”

Apa yang Harus Kita Tuntut?

Keputusan ini bukan soal menolak kemajuan. Ini soal memilih jalan yang benar. Maka sebelum bor berputar sedalam 2.000 meter, masyarakat berhak menuntut:

✅ Transparansi penuh tentang studi dampak lingkungan dan sosial

✅ Konsensus warga sebelum proyek dimulai

✅ Evaluasi ulang lokasi — cari alternatif yang tidak merusak sumber air dan cagar budaya

✅ Jaminan ganti rugi dan perlindungan jangka panjang bagi warga yang terkena dampak

Penutup

Gunung Ungaran telah memberi air, tanah subur, dan kesejukan kepada kita selama berabad-abad. Kini, giliran kita untuk menjaganya. Energi memang penting, tapi tidak ada energi yang lebih berharga daripada air bersih, tanah yang subur, dan warisan leluhur yang tak ternilai.

Semoga keputusan ini ditinjau kembali — bukan untuk menolak kemajuan, tapi untuk memastikan bahwa kemajuan itu tidak merampas masa depan kita sendiri.

 

Artikel ini telah tayang di                              Surat Kabar