Selecta Batu: Ketika Komunikasi Pariwisata Bicara Lewat Bunga

Waktu pertama kali masuk ke Taman Rekreasi Selecta di Kota Batu, saya, Suci Septiani, langsung paham kenapa tempat ini masih ramai dikunjungi sampai sekarang. Bukan karena wahana yang canggih. Bukan karena promosi yang masif. Melainkan karena Selecta tahu betul cara berkomunikasi dengan pengunjungnya, dan bunga-bunga yang tersusun rapi di jalur masuk itu adalah kalimat pertama yang mereka ucapkan.

Dalam kelas Komunikasi Pariwisata yang diampu Drs. Widiyatno Ekoputro, M.A., ada satu hal yang selalu digarisbawahi: komunikasi pariwisata bukan hanya soal iklan atau brosur. Setiap elemen di sebuah destinasi, mulai dari visual, tata ruang, hingga pengalaman yang pengunjung rasakan, adalah bagian dari pesan yang ingin disampaikan. Dan Selecta, secara sadar maupun tidak, menerapkan semua itu dengan baik.

Ambil contoh paling sederhana: taman bunganya. Hamparan bunga berwarna-warni dengan latar Gunung Arjuno menciptakan komposisi visual yang kuat. Tidak perlu kata-kata panjang. Satu foto dari sana sudah cukup untuk menyampaikan pesan bahwa ini adalah tempat yang indah, tenang, dan layak dikunjungi. Itulah komunikasi pariwisata yang bekerja secara visual, langsung ke perasaan orang sebelum mereka sempat berpikir panjang.

Fasilitas yang tersedia di Selecta juga punya peran komunikasi tersendiri. Kolam renang, sepeda udara, area bermain anak, wahana keluarga, semua itu membangun pesan yang jelas tentang posisi Selecta sebagai destinasi keluarga lintas generasi. Anak kecil, remaja, orang tua, hingga kakek-nenek bisa menemukan sesuatu untuk dinikmati. Pesan itu sampai bukan lewat slogan, tapi lewat pengalaman langsung yang pengunjung rasakan selama berada di sana.

Yang paling menarik bagi saya adalah bagaimana Selecta memanfaatkan pengunjung sebagai ujung tombak komunikasinya. Pak Widiyatno pernah menjelaskan bahwa dalam era digital, wisatawan bukan lagi penerima pesan yang pasif. Mereka aktif memproduksi dan menyebarkan konten tentang tempat yang mereka kunjungi. Selecta persis seperti itu. Setiap pengunjung yang mengunggah foto di Instagram atau TikTok secara otomatis menjadi juru bicara Selecta. Jangkauan pesannya meluas jauh melampaui kapasitas promosi resmi mana pun.

Satu hal lagi yang membuat komunikasi pariwisata Selecta terasa berbeda adalah konsistensi identitasnya. Di tengah banyaknya destinasi baru yang berlomba tampil modern dan kekinian, Selecta memilih untuk tidak kemana-mana. Nuansa klasik dan alami tetap dijaga. Keputusan itu ternyata menjadi pesan tersendiri yang kuat: Selecta menawarkan pengalaman yang tidak bisa kamu temukan di tempat lain.

Tapi dari sudut pandang komunikasi pariwisata, saya melihat beberapa celah yang masih bisa Selecta tutup. Pertama, pengelolaan media sosial resmi mereka belum sepadan dengan konten organik yang terus mengalir dari pengunjung. Padahal kalau dikelola dengan baik, akun resmi Selecta bisa menjadi pusat komunikasi yang memperkuat semua pesan yang sudah ada. Kedua, pengalaman pertama pengunjung kadang rusak sejak di area parkir, terutama saat akhir pekan dan musim liburan. Kesan pertama itu penting dalam komunikasi pariwisata, dan antrean panjang sebelum masuk taman memberikan sinyal yang berlawanan dengan suasana tenang yang ingin Selecta tonjolkan. Ketiga, sistem tiket online akan sangat membantu, bukan hanya untuk efisiensi, tapi juga untuk membangun citra destinasi yang modern dan terkelola dengan baik.

Terlepas dari itu semua, Selecta tetap menjadi contoh yang menarik untuk dipelajari dalam konteks komunikasi pariwisata. Tempat ini membuktikan bahwa pesan yang kuat tidak selalu butuh anggaran besar. Identitas yang konsisten, pengalaman yang nyata, dan keindahan yang langsung bisa dirasakan adalah fondasi komunikasi yang jauh lebih tahan lama. Dan Selecta sudah menjalankan itu selama puluhan tahun.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *